Komodifikasi Gantung-Gantungan dan Tamiang di Bali

  • Manik Ciptasari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Triatma Mulya, Bali
  • Saortua Marbun Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Triatma Mulya, Bali

Abstract

Dalam dekade terakhir gantung-gantungan dan tamiang (gagantam) telah dikomodifikasikan. Halitu terjadi karena banyak kegiatan budaya masyarakat itu sendiri, dan banyak orang di Bali lebih suka membeli gagantam. Selain itu, ideologi pasar membuat orang merasa nyaman untuk membeli gagantam daripada membuatnya sendiri. Kondisi ini berkontribusi pada peluang bagi pedagang untuk mendapatkan keuntungan. Pedagang Bali dan orang-orang dari agama lain memiliki pekerjaan alternatif lain dengan menjual gagatam di pasar tradisional.

Pasar tradisional di Bali memperkenalkan gantung-gantungan dan tamiang sebagai komoditas, di mana penjual dan pembeli melakukan pertukaran. Biasanya, mereka memesan gagantam dari penduduk desa yang memasok toko-toko seni mereka di pasar tradisional. Kondisi ini memberi peluang bagi pedagang di pasar untuk mengembangkan gagantam sebagai industri budaya secara kreatif. Meskipun keuntungan dari penjualan gagantam tidak banyak, mereka biasanya menjualnya pada malam menjelang liburan seperti Galungan, Kuningan, Tumpek Landep dan hari libur utama lainnya karena pada saat liburan ada peningkatan permintaan gagantam oleh Umat Hindu di Bali.

Published
2018-07-06
How to Cite
Ciptasari, M., & Marbun, S. (2018, July 6). Komodifikasi Gantung-Gantungan dan Tamiang di Bali. An1mage Jurnal Studi Kultural, 3(2), 80-84. Retrieved from https://journals.an1mage.net/index.php/ajsk/article/view/112